{"id":152,"date":"2022-04-18T03:00:00","date_gmt":"2022-04-18T03:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/?p=152"},"modified":"2023-04-13T03:01:42","modified_gmt":"2023-04-13T03:01:42","slug":"ketum-ldii-ingatkan-dewasa-dalam-berdemokrasi-di-tahun-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/2022\/04\/18\/ketum-ldii-ingatkan-dewasa-dalam-berdemokrasi-di-tahun-politik\/","title":{"rendered":"Ketum LDII Ingatkan Dewasa dalam Berdemokrasi di Tahun Politik"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"152\" class=\"elementor elementor-152\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-60872a6 elementor-section-full_width elementor-section-height-default elementor-section-height-default rt-parallax-bg-no\" data-id=\"60872a6\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-e0d166a\" data-id=\"e0d166a\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e70cf3d elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"e70cf3d\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.19.0 - 28-02-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<h5 class=\"f-w-400\" style=\"margin-bottom: 0.5rem; font-weight: 400; line-height: 1.2; font-size: 1.25rem; color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; letter-spacing: 0.5px;\"><div><span style=\"font-weight: bolder; display: inline-block;\">LDIIKarawang.or.id<\/span>, Jakarta- Pemilu 2024 tinggal dua tahun lagi, para politisi terus bermanuver. Bila tak disikapi dengan bijak, tahun-tahun yang penuh kekerasan tampak di depan mata. Inilah pentingnya kedewasaan dalam berdemokrasi, karena inti demokrasi adalah menyejahterakan rakyat bukan ambisi pribadi atau kelompok.<br><br><\/div><div>Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dalam jumpa pers dalam rangka buka puasa bersama di Kantor DPP LDII, Jakarta, pada Senin (18\/4), \u201cTahun politik jelang pemilu adalah tahun yang emosional, inilah pentingnya pengendalian diri. Apalagi ini bulan Ramadan,\u201d ujar KH Chriswanto Santoso. Ia mengingatkan jangan hal-hal yang dianggap tidak adil dilawan dengan emosi dan kekerasan.<br><br><\/div><div>Ia mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun rakyak Indonesia melakukan politik kenegaraan dalam bingkai moralitas, \u201cKebebasan individu dalam demokrasi itu, tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan. Tanpa moralitas, kebebasan itu bisa bertabrakan dengan kebebasan orang lain,\u201d pungkasnya.<br><br><\/div><div>Ia berpendapat, ketika bangsa ini setelah Reformasi memilih untuk berdemokrasi. Maka selanjutnya, menurut KH Chriswanto, semua pihak mematuhi hukum atau aturan yang dibuat bersama oleh eksekutif dan legislatif, dan dijalankan oleh yudikatif, \u201cTaat terhadap peraturan itu adalah salah satu ciri masyarakat yang demokratis dan beradab,\u201d imbuhnya.<br><br><\/div><div>Manusia dengan moralitas yang luhur, menurutnya akan menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, \u201cRamadan ini adalah bulan yang bisa kita pakai untuk belajar mengendalikan diri, mengikuti aturan yang dibuat atas kesepakatan bersama,\u201d katanya kepada para wartawan. Justru, sikap emosional dan amarah, menghilangkan nilai luhur demokrasi.<br><br><\/div><div>\u201cEmosional dengan menghajar orang lain, itu mendegradasi nilai perjuangan yang dicanangkan. Cara berdemokrasi yang baik kita jangan mudah terpancing,\u201d imbuhnya. Ia menambahkan, keributan pada tahun politik disebabkan karena bangsa ini memiliki banyak politisi tapi miskin leadership atau kepemimpinan.<br><br><\/div><div>Menurut dia, antara politisi biasa dan yang memiliki leadership itu berbeda, \u201cPolitisi selalu menekankan program untuk jangka pendek, agar lima tahun terpilih lagi,\u201d ujar KH Chriswanto Santoso yang pernah menjadi politisi Golkar di Jawa Timur itu. Sementara leadership, menurutnya menekankan program jangka panjang, agar masyarakat sejahtera &amp; menyiapkan serta membangun generasi berikutnya.<br><br><\/div><div>Jadi boleh saja, politisi menumpang program jangka panjang dari politisi lain yang memiliki leadership. Tapi nantinya, akan tampak pada saat politisi itu kalah, \u201cMisalnya dia akan banyak komplain, menyalahkan sistem, dan lain-lain,\u201d tambahnya. Sementara seorang politisi yang memiliki leadership tidak masalah siapapun yang menang, yang terpenting visinya untuk menyejahterakan rakyat dan membangun generasi penerus yang berkualitas bisa tercapai.<br><br><\/div><div>Ruang Publik Harus Sehat<br>Terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam negara demokrasi, KH Chriswanto mengingatkan, bahwa masalah agama adalah given, masalah keyakinan, \u201cSemua orang menganggap agama atau keyakinannya adalah yang paling benar, rasa itu hadir karena pemberian Sang Khalik,\u201d ujarnya.<br><br><\/div><div>Dia berpandangan adanya perbedaan tafsir mengenai agama atau keyakinan adalah hal yang lumrah. Namun, setiap agama selalu mengajarkan mengenai perdamaian, \u201cPada titik inilah, semua umat beragama dan mereka yang memiliki keyakinan berbeda-beda, memiliki kewajiban membuat kesepakatan perdamaian satu sama lain,\u201d imbuhnya.<br><br><\/div><div>Senada dengan KH Chriswanto, Ketua DPP LDII Rully Kuswahyudi mengingatkan pentingnya ruang publik, dalam hal ini media sosial, bukan sebagai tempat saling menyerang keyakinan, \u201cBaik sesama umat Islam atau antar umat beragama,\u201d ujarnya. Menurut Rully kekerasan simbolik atau kekerasan verbal di media sosial, mampu menciptakan kekerasan fisik di tengah-tengah masyarakat.<br><br><\/div><div>Penistaan agama, yang katanya hal yang lumrah di negara maju karena demokrasinya telah dewasa, menurut Rully juga harus dilihat kembali realitasnya, \u201cDi negara-negara maju, ada gereja dibakar atau umat Islam ditembaki saat beribadah, itu semua karena penistaan agama di media sosial,\u201d ujarnya. Untuk itu, ia meminta semua pihak dalam urusan agama, selalu mawas diri, saling menghormati dan menghargai.<br><br><\/div><div>\u201cKita semua merasa keyakinannya adalah yang paling benar, tapi kita juga memiliki kewajiban menciptakan suasana keberagaman ini menjadi sejuk,\u201d tuturnya.<br><br><\/div><div>Rully mengatakan esensi politik adalah bagaimana menciptakan ruang, agar semua orang yang berbeda gaya hidup dan pandangan bisa hidup berdampingan dengan damai, \u201cJadi politik itu bukan soal cara berkuasa saja. Ada amanah untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara ini menjadi lebih berkualitas,\u201d pungkasnya. (*)<\/div><\/h5>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LDIIKarawang.or.id, Jakarta- Pemilu 2024 tinggal dua tahun lagi, para politisi terus bermanuver. Bila tak disikapi dengan bijak, tahun-tahun yang penuh kekerasan tampak di depan mata. Inilah pentingnya kedewasaan dalam berdemokrasi, karena inti demokrasi adalah menyejahterakan rakyat bukan ambisi pribadi atau kelompok. Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dalam jumpa pers dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":153,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=152"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":157,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152\/revisions\/157"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}