{"id":507,"date":"2022-08-21T08:24:00","date_gmt":"2022-08-21T08:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/?p=507"},"modified":"2023-04-13T08:25:32","modified_gmt":"2023-04-13T08:25:32","slug":"membangun-peradaban-ldii-jateng-dorong-pembudayaan-silaturahim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/2022\/08\/21\/membangun-peradaban-ldii-jateng-dorong-pembudayaan-silaturahim\/","title":{"rendered":"Membangun Peradaban, LDII Jateng Dorong Pembudayaan Silaturahim"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"507\" class=\"elementor elementor-507\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-cc32935 elementor-section-full_width elementor-section-height-default elementor-section-height-default rt-parallax-bg-no\" data-id=\"cc32935\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-0062f23\" data-id=\"0062f23\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-10d5b4c elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"10d5b4c\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.19.0 - 28-02-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p><span style=\"font-weight: bolder;font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Semarang (21\/8).<\/span><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">&nbsp;Disrupsi akibat revolusi industri 4.0 menyadarkan umat manusia, bahwa perkembangan teknologi informasi tidak selalu positif. Namun juga menciptakan gesekan-gesekan yang merusak tatanan tradisional yang penting bagi nilai-nilai kemanusiaan.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">\u201cBila toleransi tidak dibangun, suatu saat bila timbul gesekan yang bisa mengakibatkan kehancuran peradaban. Efeknya jauh lebih besar ketimbang perang,\u201d ungkap Ketua DPW LDII Jawa Tengah (Jateng) Singgih Tri Sulistiyono, yang juga Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Singgih mengatakan hal tersebut dalam \u201cSilaturrahim Kebangsaan 2\u201d yang disaksikan oleh 1.800-an peserta secara daring, pada Sabtu (20\/8) lalu. Dalam dialog interaktif tersebut, Singgih mengatakan peradaban dunia dalam kondisi ringkih, akibat Revolusi Industri 4.0 menciptakan disrupsi.<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">\u201cDisrupsi menciptakan shock culture, goncangan budaya. Mengubah bagaimana manusia berbudaya dan berekonomi. Pola komunikasi yang banyak beredar melalui media sosial, menjadikan media sosial ruang publik yang riuh tapi hampa. Diskusi berubah menjadi hoaks dan ujaran kebencian dengan dalih kebebasan berekspresi,\u201d ujarnya.<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Singgih yang juga Ketua DPP LDII itu mengatakan, disrupsi yang negatif dari Revolusi Industri 4.0, bisa ditangani dengan prinsip-prinsip masyarakat 5.0 (Society 5.0), \u201cSociety 5.0 adalah masyarakat supermaju yang menyeimbangkan teknologi tinggi, namun tidak merusak kemanusiaan. Justru dimanfaatkan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. Termasuk tatanan kemasyarakatan,\u201d tuturnya.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Dalam hal ini, Society 5.0 mensyaratkan toleransi, saling menghargai, menghormati dan hidup berdampingan secara damai, \u201cMasyarakat 5.0 ditandai dengan ko-eksistensi damai, hidup berdampingan dengan damai,\u201d imbuhnya.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Singgih menambahkan bahwa, toleransi menjadi sangat penting dalam Society 5.0, \u201cManifestasinya adalah silaturrahim, menyambung tali kekeluargaan dan kasih sayang,\u201d ujarnya. Menurut Singgih, saat ini bangsa Indonesia menghadapi cobaan, dengan adanya fenomena keterbelahan sosial atau keterbelahan bangsa akibat komunikasi politik populis, \u201cDengan menggiatkan silaturrahim berbagai konflik bisa diselesaikan dengan baik,\u201d pungkasnya.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Menurutnya, nilai-nilai Islam telah mengajarkan pentingnya silaturrahim, yang memiliki efek kesehatan, rezeki, dan panjang umur. Artinya bangsa bisa menjadi bangsa yang makmur bila rakyatnya bersilaturahim, dan pengelola negerinya juga bersilaturahim dengan rakyatnya maupun dengan bangsa-bangsa lain.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Pentingnya silaturrahim menjadi perhatian Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah KH Ahmad Darodji. Ia menekankan MUI sebagai payung seluruh umat Islam memandang pentingnya moderasi beragama, yang dapat membangun sikap toleransi dan rukun guna memperkuat kesatuan dan persatuan umat Islam.<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">\u201cSilaturahim ini sangat perlu, dan kalau kita ingin silaturahim, yang pertama kuncinya itu, cari persamaan, dan hindari perbedaan. Memang kita ini berbeda, tetapi kalau terus mencari perbedaan itu tidak akan selesai,\u201d ujarnya.<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Silaturrahim yang diperkenalkan Islam, tak bertentangan dengan kearifan lokal yang di kalangan masyarakat Jawa disebut sebagai seduluran, \u201cMenjadi sedulur itu hidup bersama. Kamu adalah aku yang lain, mereka adalah kami yang lain, berarti kita adalah saudara. Sehingga, jika telah menjadi saudara, tidak akan tega melihat nasib jelek saudaranya,\u201d ucap Antropolog Universitas Diponegoro (Undip) Mudhajirin Thohir.&nbsp;<\/span><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><br style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\"><span style=\"font-family: Montserrat, sans-serif;font-size: 20px;letter-spacing: 0.5px\">Bagi guru besar ilmu Antropologi itu, toleransi memiliki makna berinteraksi dan berkompetisi. Toleransi berbeda dengan kebebasan dan ketidakpedulian. \u201cToleransi yang ideal semacam memberikan pandangan, tindakan dan sikap terhadap kenyataan bahwa sedang berkompetisi, namun secara elegan. Dengan kata lain, sedang berlomba-lomba dalam kebaikan,\u201d ujarnya. Ketika masyarakat bisa bertoleransi itulah bukti kedewasaan dalam kehidupan yang plural. (kim\/ldii)<\/span><br><\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang (21\/8).&nbsp;Disrupsi akibat revolusi industri 4.0 menyadarkan umat manusia, bahwa perkembangan teknologi informasi tidak selalu positif. Namun juga menciptakan gesekan-gesekan yang merusak tatanan tradisional yang penting bagi nilai-nilai kemanusiaan.&nbsp;\u201cBila toleransi tidak dibangun, suatu saat bila timbul gesekan yang bisa mengakibatkan kehancuran peradaban. Efeknya jauh lebih besar ketimbang perang,\u201d ungkap Ketua DPW LDII Jawa Tengah (Jateng) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":508,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/507"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=507"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":512,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/507\/revisions\/512"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/508"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}