{"id":526,"date":"2022-08-16T08:32:00","date_gmt":"2022-08-16T08:32:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/?p=526"},"modified":"2023-04-13T08:33:47","modified_gmt":"2023-04-13T08:33:47","slug":"sambut-hut-ri-ldii-yakinkan-ponpes-bukan-sarang-radikalisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/2022\/08\/16\/sambut-hut-ri-ldii-yakinkan-ponpes-bukan-sarang-radikalisme\/","title":{"rendered":"Sambut HUT RI, LDII Yakinkan Ponpes Bukan Sarang Radikalisme"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"526\" class=\"elementor elementor-526\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-c28b73b elementor-section-full_width elementor-section-height-default elementor-section-height-default rt-parallax-bg-no\" data-id=\"c28b73b\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-a98e43f\" data-id=\"a98e43f\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-d291029 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"d291029\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.19.0 - 28-02-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Segenap rakyat Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia. HUT kemerdekaan Indonesia selalu menjadi pengingat masa lalu, mengenai perjuangan para pahlawan sekaligus pencapaian dan proyeksi masa depan Indonesia.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">\u201cKemerdekaan ini lahir dari upaya yang gigih dari para pejuang bangsa. Kita wajib bersyukur dengan perjuangan mereka, sehingga negara Indonesia ini eksis. Namun persoalan-persoalan kebangsaan akan tetap ada sesuai dinamika zaman,\u201d ungkap Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso saat ditemui di Kantor DPP LDII, Jakarta, pada Selasa (16\/8).&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Ia menggarisbawahi bahwa pondok pesantren beberapa kali turut terlibat langsung dalam menghadapi masalah yang dihadapi bangsa. Bahkan, pondok pesantren tidak pernah absen dalam perjuangan bangsa Indonesia sejak zaman kolonial.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">\u201cKita lihat sejarahnya, ketika menghadapi penjajahan, pondok-pondok pesantren mengirimkan ribuan santrinya ke medan perang. Begitu pula saat bangsa ini menghadapi komunisme, maka pesantren menjadi salah satu basis perlawanan. Begitupun di saat bangsa ini menghadapi Covid-19, pondok-pondok pesantren menyiapkan fasilitasnya untuk melakukan vaksinasi. Pondok selalu hadir dalam pentas bangsa,\u201d lanjut Chriswanto.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Menurut Chriswanto, di abad internet ini persoalan kebangsaan terus mendapat tantangan. Bila dahulu kala, rempah membawa penjajahan Indonesia ke Eropa, \u201cKini masalah perebutan sumberdaya, dan Indonesia sebagai negara berpenduduk besar merupakan pasar yang menjanjikan bagi produk-produk asing,\u201d imbuhnya.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">KH Chriswanto mengatakan, globalisasi menempatkan Indonesia sebagai tujuan pengaruh berbagai ideologi. Setiap ideologi, menurutnya melahirkan radikalisme, \u201cBukan hanya Islam, agama-agama lainnya juga mengalami masalah dengan radikalisme. Bahkan liberalisme yang radikal menghasilkan LGBT hingga hedonisme berupa pemujaan terhadap duniawi,\u201d ungkap KH Chriswanto.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Persoalannya, Indonesia dengan mayoritas umat Islam, maka radikalisme kerap dilekatkan kepada umat Islam saja, \u201cUmat agama lain yang minoritas, radikalismenya tidak terlalu diperhatikan,\u201d katanya. Untuk itu, umat Islam di Indonesia harus terus-menerus menunjukkan kontribusi besar terhadap pembangunan, \u201cIngat sejak Perang Diponegoro, era pergerakan, hingga perang kemerdekaan, umat Islam dan kalangan pesantren berkontribusi besar dalam memerdekakan Indonesia,\u201d imbuhnya.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Untuk terus menjaga nilai-nilai kebangsaan di lingkungan pondok-pondok pesantren di bawah naungan LDII, DPP LDII mengadakan berbagai seminar kebangsaan, \u201cBahkan setiap 17 Agustus, pondok-pondok pesantren di lingkungan LDII menggelar upacara bendera. Sepanjang Agustus para santri mengikuti acara yang diadakan di lingkungan pondok,\u201d imbuhnya.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Penanaman nilai-nilai kebangsaan tak sebatas acara-acara yang bersifat seremonial, wawasan kebangsaan tersebut diajarkan kepada para penyelenggara pendidikan. DPP LDII menggelar Sekolah Pamong Indonesia (SPI), untuk mengedukasi para pengurus yayasan, para guru sekolah dan pesantren, pamong, hingga petugas keamanan dan kebersihan.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">\u201cPemikirannya, jangan hanya santri dan siswa yang diberi wawasan kebangsaan, sementara penyelenggara dan mereka yang terlibat dalam lembaga pendidikan tidak disentuh. Justru makin rawan bila radikalisme meyusup kepada penyelenggara pendidikan,\u201d kata KH Chriswanto.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Pamong yang menjadi orangtua pengganti bagi santri dan siswa diedukasi melalui SPI, karena mereka berfungsi sebagai pengganti orangtua, \u201cSistem boarding school di LDII, membuat para siswa dan santri jauh dari orangtua. Pamong berfungsi sebagai pengganti orangtua, untuk itu mereka harus terlebih dahulu ditanamkan wawasan kebangsaan,\u201d ujarnya.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Model tersebut membuat KH Chriswanto Santoso yakin, di lingkungan pesantren tidak ada ruang untuk radikalisme. Sebaliknya, rasa cinta tanah air dan bangsa tumbuh dengan baik. Sehingga para santri bisa terus berkontribusi dalam upaya pembangunan nasional.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Adapun Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, rutin melaksanakan upacara bendera&nbsp; setiap hari Senin dan hari-hari nasional yang dilaksanakan sebagai upaya untuk menumbuhkan budi pekerti, karakter bangsa, terutama nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. (kim\/ldii)<\/span><br><\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Segenap rakyat Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia. HUT kemerdekaan Indonesia selalu menjadi pengingat masa lalu, mengenai perjuangan para pahlawan sekaligus pencapaian dan proyeksi masa depan Indonesia.&nbsp;\u201cKemerdekaan ini lahir dari upaya yang gigih dari para pejuang bangsa. Kita wajib bersyukur dengan perjuangan mereka, sehingga negara Indonesia ini eksis. Namun persoalan-persoalan kebangsaan akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":527,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/526"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=526"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/526\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":531,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/526\/revisions\/531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}