{"id":544,"date":"2022-06-01T08:39:00","date_gmt":"2022-06-01T08:39:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/?p=544"},"modified":"2023-04-13T08:39:57","modified_gmt":"2023-04-13T08:39:57","slug":"dpp-ldii-jadikan-hari-lahir-pancasila-sebagai-momentum-membangun-peradaban-di-bidang-moral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/2022\/06\/01\/dpp-ldii-jadikan-hari-lahir-pancasila-sebagai-momentum-membangun-peradaban-di-bidang-moral\/","title":{"rendered":"DPP LDII Jadikan Hari Lahir Pancasila Sebagai Momentum Membangun Peradaban di Bidang Moral"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"544\" class=\"elementor elementor-544\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-602ca25 elementor-section-full_width elementor-section-height-default elementor-section-height-default rt-parallax-bg-no\" data-id=\"602ca25\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-d1faf0f\" data-id=\"d1faf0f\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-0328478 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"0328478\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.19.0 - 28-02-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Jakarta (1\/6). Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sesuai Surat edaran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) No. 4\/ 2022 Tentang Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2022, tema yang diangkat &#8220;Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia&#8221;.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">\u201cTema Pancasila kali ini membawa kita merenungi ke arah mana peradaban dunia yang akan diwarnai bangsa Indonesia. Apakah peradaban itu hanya diukur berlandaskan kecanggihan teknologi atau akhlak bangsa,\u201d ujar Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Ia memaparkan, bangsa Indonesia untuk membangun peradaban dunia bukan hanya mengejar ketertinggalan teknologi, namun juga menjaga agar identitas bangsa yang berjiwa gotong-royong tidak pudar, \u201cInti dari Pancasila adalah gotong-royong, dan ini jadi karakter suku-suku bangsa di nusantara jauh sebelum Indonesia lahir,\u201d paparnya.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Menurutnya, sejak era kolonialisme hingga saat ini, anak-anak bangsa seperti bimbang di simpang jalan, antara modernisasi dan westernisasi, \u201cPeralatan modern diciptakan bahkan diimpor, sementara gaya hidup Barat atau westernisasi hadir menghegemoni pola pikir masyarakat, tanpa disadari hal itu menggerus nilai-nilai gotong-royong dan sifat sosial,\u201d ujar KH Chriswanto Santoso.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Walhasil gaya hidup liberal yang mementingkan diri sendiri, membuat sebagian masyarakat tak peka lagi pada kondisi bangsa, \u201cContoh kasat mata, adalah adanya pejabat yang korupsi dana bantuan sosial bagi wabah atau bencana, ini membuat kita berduka bercampur geram,\u201d imbuhnya.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Untuk itu, peringatan Hari Lahir Pancasila dengan tema &#8220;Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia&#8221;, juga harus dimaknasi membangun akhlak bangsa, \u201cDahulu kala ada penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila atau P4, meskipun bagi anak-anak muda saat itu membuat jenuh, tapi mereka mengetahui nilai-nilai Pancasila,\u201d ujarnya.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Nilai-nilai itu, harus kembali digalakkan di sekolah-sekolah bahkan untuk penerimaan mahasiswa baru, \u201cNamun yang paling efektif harus disertai prilaku Pancasilais dari para penyelenggara pendidikan, dari bahkan sampai Satpam penjaga gerbang sekolah sekalipun,\u201d harap KH Chriswanto.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Sementara itu, Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro Singgih Tri Sulistiyono, menjelaskan memahami dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila menjauhkan bangsa ini dari radikalisme agama hingga nasionalisme yang sempit.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Menurut Singgih yang juga Ketua DPP LDII, sila pertama dari Pancasila yang berbunyi \u2018Ketuhanan Yang Maha Esa\u2019 merupakan pondasi dalam konstruksi keindonesiaan. Sehingga, meskipun Islam sebagai agama mayoritas, namun agama-agama lain dapat dijalankan dengan bebas.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Singgih menyitir Bung Karno, dengan mengungkapkan sila pertama Pancasila merupakan wujud memeluk agama yang dilandasi gotong-royong, \u201cDi dalam gotong-royong terdapat sikap saling menghormati, menghargai, toleransi, semangat membantu, tanpa meninggalkan jati diri sebagai umat Islam atau pemeluk agama tertentu,\u201d imbuhnya.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Jika sila Ketuhanan Yang Maha Esa dijadikan bingkai, atau wadah yang akan melahirkan agama tertentu sebagai pedoman hidup bangsa, akan menjadi bibit konflik yang berkepanjangan. Maka, menurutnya, yang patut menjadi bingkai konstruksi keindonesiaan dalam Pancasila adalah sila Persatuan Indonesia.&nbsp;<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Ia menegaskan bahwa, bangsa Indonesia tanpa Pancasila akan rapuh. Pertama, Indonesia akan rapuh jika tidak punya pondasi religiusitas yang kuat, sebagaimana yang termaktub dalam sila pertama Pancasila. Kedua, bangsa Indonesia akan tercerai berai jika tidak ada bingkai yang jelas, seperti yang dirumuskan dalam sila ketiga, yang berbunyi \u2018Persatuan Indonesia\u2019.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Ketiga, bangsa Indonesia akan kehilangan arah, jika tidak mempunyai tujuan yang jelas, seperti yang dirumuskan di sila kelima, yang bunyinya \u2018Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia\u2019.<\/span><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><br style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\"><span style=\"color: rgb(36, 41, 52); font-family: Montserrat, sans-serif; font-size: 20px; letter-spacing: 0.5px;\">Selanjutnya, Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang beradab, jika tidak memiliki nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan tidak memiliki kesadaran untuk menerapkan gotong-royong, jika tidak ada sila kedua yang berbunyi \u2018Kemanusiaan yang adil dan beradab\u2019, dan sila keempat yang berbunyi \u2018Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan\/perwakilan\u2019. \u201cMasing-masing sila dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan, dan saling melengkapi,\u201d tegasnya. (kim\/*)<\/span><br><\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta (1\/6). Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sesuai Surat edaran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) No. 4\/ 2022 Tentang Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2022, tema yang diangkat &#8220;Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia&#8221;.\u201cTema Pancasila kali ini membawa kita merenungi ke arah mana peradaban dunia yang akan diwarnai bangsa Indonesia. Apakah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":545,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/544"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=544"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/544\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":549,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/544\/revisions\/549"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/545"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=544"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=544"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ldiikarawang.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=544"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}